Kotak Pengaduan

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8)



Bacaan hari ini: Mikha 6:1-16 | Bacaan setahun: Mikha 5-6

Dalam sebuah kotak pengaduan pelayanan, ada banyak keluhan dari pelanggan kepada satu perusahaan pelayanan masyarakat. Mulai dari keluhan karena barang yang dibeli tidak sesuai harapan, juga karena tidak mendapat pelayanan baik dari perusahaan. Pada umumnya, keluhan-keluhan muncul karena pelanggan kecewa, tidak dapat mengatasi masalahnya. Mereka memberi keluhan dan berharap ada solusi. Berbeda dengan Mikha 6, Allah mengeluh kepada ciptaan-Nya sendiri. Bukankah sebagai Pencipta, Allah dapat menciptakan ulang ciptaan yang lebih taat kepada-Nya? Lagipula, apakah yang Allah harapkan dari seorang manusia berdosa? Bisa jadi setelah Allah memasukkan keluhan-Nya ke dalam “kotak pengaduan”, alih-alih mendapat solusi, Ia justru semakin sakit hati.

Dalam perikop ini, Mikha menunjukkan Allah memberikan keluhan-Nya bukan lagi dalam kotak pengaduan, tetapi dalam suasana pengadilan. Lebih jauh, Allah bukan sekadar pelanggan yang mengeluh dengan apa yang diberikan, tapi Ia duduk sebagai hakim yang menuntut para terdakwa. Ia memanggil gunung-gunung dan bukit-bukit untuk bergabung sebagai juri untuk turut melihat bagaimana umat-Nya selama ini hidup. Umat-Nya telah menukar ibadah sejati dengan ritual yang kosong, dan mengklaim bahwa itu adalah perintah Allah. Mereka telah melupakan standar kekudusan Allah dan hidup berdasar standar mereka sendiri. Mereka telah gagal menjadi apa yang Allah minta. Tidak heran, Allah yang mengadu sekaligus menjadi Hakim memutuskan bahwa mereka: “Bersalah!” Namun demikian, berulang kali Allah menghukum umat-Nya, dan berulang kali pula Allah mengampuni mereka. Begitu pula dengan akhir kitab ini (Mikha 7). Mikha menceritakan bagaimana Allah menuntut dan menghukum mereka, tetapi sekaligus memberikan pengampunan.

Pertanyaan refleksi: mengapa Allah masih mau meladeni kehidupan manusia yang berdosa, jika Ia mampu memusnahkan segalanya dan hidup dengan ciptaan yang lebih baik? Berulang kali kita berdosa, berulang kali pula Allah telah mengampuni. Ini adalah sebuah panggilan bagi kita, untuk terus mengupayakan yang terbaik. Berjuang untuk menyenangkan hati Tuhan, karena Ia telah lebih dulu mengasihi kita.

STUDI PRIBADI: Apa yang kita lakukan bagi Allah setelah melihat kasih-Nya untuk kita?

Pokok Doa: Berdoa bagi keluarga, kerabat dan orang yang kita kenal yang belum mengenal Kristus agar mereka juga merasakan kasih-Nya yang luar biasa.

Sharing Is Caring :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *