Nubuat Yang Baik Tapi Palsu

Bacaan hari ini: Yeremia 28 | Bacaan setahun: 2 Tawarikh 7-9, Efesus 1

“Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN.” (Yeremia 28:16)

 

Firman yang dibawa Yeremia untuk Yehuda menghadapi perlawanan dari nabi Hananya yang justru mengabarkan kebalikannya, yaitu Yehuda akan dilepaskan dari Babel dan mereka yang ditawan terdahulu akan dilepaskan. Jika kita menjadi umat Yehuda, maka tentunya nubuat tentang kemenangan dan kelepasan akan lebih mudah diterima. Bagaimanapun, di dalam situasi sulit, tentunya doa kita kepada Tuhan adalah agar Dia melepaskan kita dari kesulitan.

Satu hal yang pasti terjadi, yang juga menjadi pergumulan kita ketika membaca bagian firman ini, adalah bagaimana memahami mana yang menjadi kehendak Tuhan dan yang bukan? Secara manusiawi bangsa Yehuda sedang takluk pada kerajaan Babel, beberapa rakyat sudah dibawa ke Babel untuk ditawan, maka tentu rakyat Yehuda membutuhkan kelepasan dari Babel. Tetapi firman Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa yang menjadi kehendak Tuhan adalah apa yang dikabarkan oleh Yeremia. Bahkan Hananya ditegur keras oleh Tuhan dan pada akhirnya mati karena apa yang dilakukannya.

Bagaimana kita menyikapi kisah Yeremia dan Hananya ini? Pertama, kita perlu berhati-hati dengan “nabi-nabi palsu” yang bertujuan untuk menjauhkan kehidupan kita dari Tuhan. Celakanya, para pengabar palsu ini bahkan bisa berpikir sedang mengabarkan kehendak Tuhan, tapi belum tentu demikian. Mereka hanya memuaskan telinga para pendengarnya, bukan mengabarkan firman yang menghidupkan. Kedua, kehendak Tuhan adalah apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita, cocok atau tidak cocok dengan keinginan kita, enak atau tidak enak dengan “telinga” kita. Terkait hal ini, hendaknya kita dekat dengan firman Tuhan sehingga kita dituntun oleh hikmat Tuhan untuk memahami dan menguji apakah yang dikabarkan adalah firman Tuhan atau sekadar kata-kata manusia. Jangan hanya mau mendengarkan firman Tuhan yang kita rasa cocok dengan telinga dan selera kita, tetapi selalu menyediakan diri kita untuk menjadi hamba yang siap mendengarkan firman Tuhan dan kemudian menaatinya.

STUDI PRIBADI : Bagaimanakah cara kita untuk dapat membedakan kehendak Tuhan yang benar dan tidak ?

Pokok Doa : Berdoalah bagi umat Tuhan agar benar-benar mencintai firman Tuhan, merenungkannya siang dan malam, serta dimampukan Tuhan untuk berjalan di dalam kehendak-Nya.