Merendahkan Diri

“Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: ‘Jangan melampaui yang ada tertulis’, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.” (1 Korintus 4:6)



Pembahasan: 1 Korintus 4:6-21 | Ayat Bacaan: 1 Korintus 4-5

Dalam tradisi gereja kuno, kesombongan (pride) dinobatkan sebagai pemimpin dari tujuh dosa mematikan (seven deadly sins). Bukan tanpa alasan. Kesombongan adalah dosa yang membuat Iblis jatuh dari surga. Kesombongan membuat kita merasa tidak membutuhkan Allah dan merasa lebih tinggi daripada orang lain. Paulus menemukan penyakit rohani ini menggerogoti jemaat Korintus. Mereka bukan hanya sombong, tetapi “menggelembung” (φυσιόω – physioō). Kata ini digunakan Paulus sebanyak 6 kali dalam surat ini (4:6, 18-19; 5:2; 8:1; 13:4). Ini menunjukkan, Paulus secara khusus menegur jemaat Korintus yang membanggakan tokoh favorit, saling membandingkan, dan menganggap diri sudah kaya dan menjadi raja (4:8, 10). Inilah wajah kesombongan rohani yang mematikan.

Paulus mengingatkan, “Apa yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?” (ayat 7). Kenyataannya, tidak ada satu pun talenta, jabatan, atau karunia yang mereka miliki berasal dari diri mereka sendiri. Paulus juga membeberkan realitas pelayanan sejati yang justru sangat berlawanan dengan impian kejayaan jemaat Korintus. Sebagai kontras, para rasul justru mengalami kelaparan, dihina, dianiaya, dan dianggap sebagai sampah dunia (ayat 11-13). Mengapa? Karena dalam kelemahan, kuasa Kristus menjadi sempurna. Hikmat Allah dinyatakan melalui salib, bukan retorika mewah. Kerajaan Allah bukanlah sekadar kata-kata indah, tetapi kuasa nyata yang mengubahkan hidup (ayat 20). Panggilan kita bukan menjadi raja-raja kecil di atas takhta dunia, melainkan pelayan yang merendahkan hati dan meneladani Kristus.

Hari ini, Paulus menantang setiap kita untuk merendahkan diri. Kesombongan rohani merupakan akar perpecahan, yang lahir ketika kita lupa bahwa segala sesuatu adalah anugerah, termasuk iman dan talenta kita. Maka, setiap kali kita merasa lebih rohani, lebih benar, dan lebih pintar daripada saudara seiman – waspadalah akan “gelembung” kesombongan yang bisa pecah kapan saja. Ingat, Allah menentang orang yang sombong, tetapi mengasihi orang yang rendah hati. Pujian yang benar-benar berarti bukan berasal dari manusia, tetapi dari Allah (ayat 4-5). Hiduplah rendah hati, maka Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya.

STUDI PRIBADI: Apa dampak dari kesombongan? Bagaimana kita dapat melawannya?

Pokok Doa: Berdoa para pemimpin keluarga, perusahaan, gereja, dsb. agar senantiasa rendah hati di hadapan Allah. Berdoa agar umat Tuhan waspada terhadap kesombongan yang bisa merusak relasi dengan Allah dan sesama.

×

1 Korintus 4:6

6 Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.

×

1 Korintus 4:18-19

18 Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu.

19 Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka.

×

1 Korintus 5:2

2 Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu?

×

1 Korintus 8:1

1 Tentang daging persembahan berhala kita tahu: "kita semua mempunyai pengetahuan." Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.

×

1 Korintus 13:4

4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

×

1 Korintus 4:8, 10

8 Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu.

10 Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina.

×

1 Korintus 4:7

7 Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?

×

1 Korintus 4:11-13

11 Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara,

12 kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;

13 kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.

×

1 Korintus 4:20

20 Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.

×

1 Korintus 4:4-5

4 Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.

5 Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

×

Roma 3:24

24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

×

Kolose 3:5-11

5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).

7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.

8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,

10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

×

1 Yesaya 37:37

37 Sebab itu berangkatlah Sanherib, raja Asyur dan pulang, lalu tinggallah ia di Niniwe.

×

1 Yesaya 37:38

38 Pada suatu kali ketika ia sujud menyembah di dalam kuil Nisrokh, allahnya, maka Adramelekh dan Sarezer, anak-anaknya, membunuh dia dengan pedang, dan mereka meloloskan diri ke tanah Ararat. Kemudian Esarhadon, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.

Sharing Is Caring: